Sifat Fisika-Kimia dan Permasalahan Gambut

Gambut terbentuk karena adanya pelonggokan bahan organik dalam waktu yang lama. Di alam, bahan organik akan selalu mengalami perombakan, umumnya secara biologi oleh makro dan mikroorganisme. Adanya pelonggokan menunjukkan bahwa perombakan bahan organik lebih kecil dibandingkan dengan penambahan bahan organik. Dekomposisi bahan organik ditentukan oleh aktivfitas mikroorganisme, serta oleh komposisi kimianya. Kecepatan pembentukan gambut dipengaruhi antara lain : kemampuan tanaman menghasilkan biomassa, susunan biomassa yang tebentuk, kecepatan dekomposisi dan mineralisasi, keadaan anaerob, temperature, kemasaman dan aktifitas mikroorganisme.

Gambut sangat berbeda dengan tanah mineral karena berasal dari jaringan sisa kehidupan yang terkumpul dengan berbagai tingkat perombakan. Dalam perombakan tersebut akan terlepas CO2 dalam bentuk gas dan air serta tersisa bahan residu. Sebagai bahan organik maka didalamnya terkandung energi kimia, sebagai hamparan di permukaan bumi bahan ini dapat berfungsi sebagai media tumbuhan. Dua peran ini yang secara umum mempengaruhi penggunaan gambut sehingga dapat dimanfaatkan dalam bentuk fungsinya sebagai bahan dan lahan.

Kesuburan gambut bergantung pada susunan kimia dan tingkat kematangannya. Tingkat kematangan atau derajat perombakan gambut menurut Rosmini, et al. (1988) adalah fibrik (kurang dari 33%), hemik (terombak 33-66%) dan saprik (terombak lebih dari 66%), makin tinggi tingkat kematangan gambut, maka makin banyak pula unsur hara yang dilepaskan.

SIFAT FISIKA

Gambut mempunyai sifat-sifat fisik yang menonjol dibandingkan dengan tanah mineral. Sifat fisik tersebut adalah kerapatan massa yang lebih kecil dibandingkan tanah mineral, rendahnya massa gambut ketika kering, besarnya kemampuan menahan air, dan struktur yang hampir tidak berubah.

Bahan organik mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk mengadsorpsi dan mengikat air. Hal ini berhubungan dengan berat isi dan kandungan serat yang dipengaruhi oleh tingkat dekomposisi bahan organik. USDA membedakan tingkat dekomposisi bahan organik yaitu saprist dengan berat isi > 0,2 g/cc, hemist dengan berat isi 0,1-0,2 g/cc dan fibrist < 0,1 g/cc. Sebaran ukuran pori gambut dipengaruhi oleh komposisi fraksi dan struktur. Jumlah dan sebaran ukuran pori menentukan sifat-sifat retensi air, kapasitas menahan air dan daya hantar hidrolik gambut. Konduktifitas hidrolik menentukan aliran air ke permukaan. Karakteristik ini ditentukan oleh porositas, permeabilitas, konfigurasi saluran yang saling berhubungan, pemadatan dan gradient hidrolik.

SIFAT KIMIA

Gambut pada umumnya mempunyai tingkat kemasaman yang tinggi, yaitu pH berkisar antara 3,0-3,5 bagi gambut segar dan pH sekitar 3,5-4,5 untuk gambut yang telah lama diusahakan. Sumber kemasaman ini dapat berasal dari asam-asam organik seperti asam sulfat maupun dari asam organik. Rendahnya pH gambut disebabkan oleh disosiasi dari H+ dari gugus karboksil, phenolic dan asam amino dalam bahan organik sehingga kompleks koloid gambut tersebut jenuh ion H+.

Kapasitas tukar kation gambut sangat tinggi terutama disebabkan oleh gugus karboksil dan phenolic dan mungkin gugus fungsional yang lain. Gugus fungsional tersebut semakin bertambah dengan lanjutnya dekomposisi bahan organik sehingga kapasitas tukar kation dapat meningkat sampai 200 me/100 g.

PERMASALAHAN GAMBUT

Masalah utama dalam pemanfaatan gambut adalah sangat dibatasi oleh sifat fisik dan sifat kimia, seperti tingkat kematangan, jumlah bahan organik, kemasaman tanah, kehadiran sulfat (pirit) dan asam organik akibat mineralisasi bahan organik, intrusi air laut, ketersediaan unsur hara dan keracunan alumunium.

Kandungan fosfat dan kalium dalam gambut sangat rendah. Hal ini menyebabkan gambut perlu pemupukan P dan K relatif banyak. Gambut bernuansa masam, dengan nilai KPK yang tinggi dan basa rendah. Pada kondisi di atas, gambut mengandung unsur Ca, Mg dan K rendah. Selain itu unsur logam seperti Cu, Fe, Mn, dan Zn dalam bentuk tidak tersedia bagi tanaman. Gambut sebagai bahan organik tidak mampu menjerap kation multivalent dalam bentuk suatu gabungan ikatan. Ikatan-ikatan ini tidak tersedia untuk tertukar dengan kation-kation monovalent dan tidak langsung terurai dalam larutan tanah. Kation-kation Zn, Cu, Mn, dan Fe dapat terjerap dalam ikatan ini sedangkan unsur N berkadar rendah dan C di dalam gambut sangat tinggi.

Kandungan nitrogen pada gambut hemik berkisar antara 1,16-1,35 dan pada gambut saprik antara 0,41-1,77%. Semakin lanjut perombakan bahan organik, akan semakin rendah nisbah C/N. bahan organik yang telah terdekomposisi sempurna nisbah C/N sekitar 10-12. Kadar asam humat pada gambut hemik rata-rata 1,51% dan saprik kadarnya sekitar 2,56. Semakin lanjut perombakan bahan organik kadar asam humat semakin meningkat. Hal di atas juga berlaku untuk asam fulvat. Nilai pH gambut semakin meningkat dengan tingkat kematangan gambut.

Referensi :

  • Brady, N.C. The Nature and Properties of Soil. A College Text of Edaphology. Sixth Edition. The Macmillan Company. New York.
  • Dolmat, M.T., H.H. Hassan dan Z.Z. Zakaria. 198. Development of Peat Soil for Palm Planting in Malaysia – Johor Barat. Agricultural Project as a Case Study. PORIM Bulletin no 5. Kementrian Perusahaan Utama. Malaysia.
  • Erwin, S. Abidin, T. Saberina dan E.M. Harahap. 1989. Respon Bibit Tembakau Deli Terhadap Pemupukan Pada Tanah Gambut dan Andosol. Dalam Prosiding Seminar Tanah Gambut untuk Perluasan Pertanian. Fakultas Pertanian USU. Medan.
  • Lopuisa, C. 1993. Klasifikasi Gambut di Indonesia Menurut Soil Taxonomy Dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Tentang Sifat dan Potensinya. Dalam Prosiding Seminar Tanah Gambut II. HGI dan BPPT.
  • Munir. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia : Karakteristik, Klasifikasi dan Pemanfaatannya. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
  • Rosmarkam, A. 1988. Gambut di Indonesia : Klasifikasi dan Penyebarannya. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
  • Sardjadidjaja, R. dan Santun R.P. Sitorus. 1993. Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Pemukiman Transmigrasi : Prospek dan Permaslahannya. Dalam Prosiding Seminar Tanah Gambut II. HGI dan BPPT.
  • Sihotang, U.T.B. dan Istianto. 1989. Masalah Penanaman Karet pada Tanah Gambut. Dalam Prosiding Seminar Tanah Gambut untuk Perluasan Pertanian. Fakultas Pertanian USU. Medan.
  • Siradz, S.A. 1991. Evaluasi Kesuburan Kimia dan Jerapan P Gambut Kalimantan Barat. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s